Showing posts with label Dine In. Show all posts
Showing posts with label Dine In. Show all posts

Friday, January 18, 2013

Nanny's Pavillon (Kimberly's Room), PI

 
       Transportasi yang mungkin bisa diperkirakan jadwalnya kayanya cuma pesawat terbang dan kereta api. Transjakarta untuk di beberapa koridor masih kurang sehingga harus antri menunggu sekian lama. Seperti saat saya akan ke Plaza Indonesia dan menunggu bus ke harmoni untuk kemudian transit dan berganti bus ke arah dukuh atas. Sudah menunggu lama ternyata sampai harmoni masih harus mengantri lagi dengan banyak orang. Lantaran saya kelamaan di perjalanan, sampai di PI teman-teman saya sudah masuk XXI. Jadilah saya mesti menunggu 2 jam untuk ketemu dengan mereka. Muter-muter mall sendirian sampe bosan dan lapar, untung nggak sampe bangkrut hahaha. Biasanya saya kalau shopping sendirian, hasil belanjaannya bisa lebih banyak.
    Setelah melihat-lihat beberapa resto yang ada, akhirnya saya mampir ke Nanny's Pavillon. Sepertinya nyaman buat makan sendirian, karena situasinya tidak terlalu crowded dan mayoritas yang saat itu sedang makan disana adalah wanita. Seperti yang kita tahu, Nanny's Pavillon ini dikenal unik karena tiap cabangnya mempunyai tema tersendiri. Untuk outlet yang di Plaza Indonesia ini temanya adalah Kimberly's Room. Nah karena ini adalah kamar cewek otomatis interiornya girly banget. Sofa dengan bantal-bantal bernuansa bunga, lampu kristal cantik, dress dan topi, serta seperangkat alat make up yang dipajang di sudut ruang. 
      Buku menunya buat saya seperti buku cerita, abisnya banyak menu yang ada nama tokohnya . Menunya cukup variatif namun tidak disertai foto makanannya. Sehingga sebelum memesan kita mesti membayangkan dulu perwujudannya berdasar deskripsi makanannya. Persis kaya baca buku cerita khan jadinya, ya memang sih ada beberapa sketsa untuk sebagian menunya. Untuk makan sore (makan siang yang terlambat) saya memilih Kerman's Beef Baked Rice (Rp 45 ribu) dan Ice Lemon Tea (Rp 22 ribu). Harga tersebut belum termasuk service charge 5.5% dan tax/other 10%.
      Di depan saya sebuah meja mungil berwarna putih dengan hiasan bunga artifisial warna ungu. Saya membayangkan enak juga sepertinya kalau punya kamar dengan interior Kimberly's room ini. Ah tapi kayanya saya nggak se-girly itu. Kalau tebakan saya sih si Kimberly itu pasti bukan anak teknik deh ;D. Tak perlu tunggu lama, Ice lemon tea yang saya pesan diantar lebih dahulu. Cukup banyak untuk menghilangkan haus setelah tour keliling mall. Tapi kurang manis nih. Saya meminta tambahan gula cair ketika waiter kembali mengantar baked rice.
      Beef baked rice datang dalam mangkok keramik besar, serta disediakan saus tomat dan saus sambal. Karena di buku menu tidak ada gambarnya, rasanya agak surprise waktu lihat aslinya. Dagingnya dibentuk bola-bola dan siram brown sauce, sedangkan nasinya disiram brown sauce dan diberi parutan keju Mozzarella. Kemudian semuanya dipanggang hingga kejunya meleleh. Berhubung saya sudah lapar, langsung saja di bongkar gundukan nasinya. Enak sih tapi saya bayangkan kalau brown saucenya agak spicy pasti lebih enak lagi. Saya coba akalin ditambah saus sambal, masih kurang cetar juga. Baked rice ini pasnya dimakan saat masih panas/hangat jadi keju lelehnya masih bisa dicampur dengan bumbu dan nasinya. Porsinya cukup banyak, puas makannya. Apalagi setelah ngabisin segelas Ice Lemon Tea jadi tambah kenyang.
     Nice place, nice food. Saya sempat ambil mini booklet menunya, Nanny's food diary. Kapan-kapan mau ngunjungin Nanny's Pavillion outlet lainnya dan semoga nggak sendirian lagi makannya.

Nanny’s Pavillon Kimberly’s Room
Plaza Indonesia 2nd Floor
Jl. M. H. Thamrin Kav. 28 – 30
Jakarta Pusat 10350

 

Wednesday, October 17, 2012

The Harvest, Depok (part.2)

      Setelah membahas Red Velvet Cake nya The Harvest, ada satu lagi camilan yang saya bawa pulang yaitu Macarons. Tergolong camilan mihil karena untuk 6 tangkupnya seharga Rp. 55 ribu. Padahal besar kuenya hanya 1,5 kali besar uang logam gopek-an. Well mungkin karena menggunakan bubuk almond sebagai salah satu bahan utama makanya harganya diatas rata-rata plus bayar skill bikinnya. Konon pembuatannya memerlukan ketelitian tinggi. 

    
     Isinya satu paket 6 buah dengan 6 macam rasa (coklat, lemon, strawbery, blueberry, raspberry, green tea)->ini tebakan saya karena nggak sempat tanya langsung ke tokonya. Diberi olesan selai dengan rasa yang sama diantara 2 buah Macaronnya. Dulunya saya pikir kalau Macaron itu seperti kue kering yang padat eh ternyata begitu digigit kopong (berongga). Luarnya garing tapi dalamnya chewy. Rasanya manis banget menurut saya, mungkin lebih ke arah candy ketimbang cookies. Mama saya berkomentar...''wah ini sih makan 10 biji juga belum kenyang''. Lumayan sih kalau lagi kepingin yang manis-manis, tapi kayanya saya bakal pilih yang rasa coklat saja enam-enamnya.

The Harvest Depok
Jl. Margonda Raya No. 295. 
Ph. : +62-21-7721 6200
Fax : +62-21-77202170


Wednesday, October 10, 2012

The Harvest, Depok (part.1)

      Sabtu siang setelah pergi ke Rektorat UI untuk legalisir ijazah dan transkrip, saya janjian ketemuan dengan seorang teman kuliah yang berdomisili di Depok. Kebetulan di Balairung juga ada event UI Career & Scholarship Expo, jadi banyak yang jualan makanan yaah kita makan di situ dulu deh. Dari UI trus meluncur ke The Harvest Bakery & Patisserie yang ada di JL. Margonda. Sebenarnya saya yang ngajak makan kue disini, pengen nyobain kue-kue yang lagi happening.
    Begitu nyampe di The Harvest, saya langsung pesan Red Velvet Cake slice (Rp.25 ribu) dan Macarons isi 6 (Rp.55 ribu). Udah diniatin dari jauh-jauh hari tuh mau nyobain Red Velvet Cake, apalagi banyak yang bilang buatannya The Harvest lumayan enak. Nggak ketinggalan Macarons yang bikin penasaran. Kue kecil gitu koq mihil, kayak apa sih rasanya. Kalau dilihat dari bahannya Macaron menggunakan Almond bubuk, hmm itu kali ya yang bikin rada mihil. Untuk menemani cemilan cake ini saya memilih Earl Grey Tea (Rp.15 ribu) hangat, biar nggak seret sekaligus nggak eneg nanti.
     Nah teman saya memilih Choco Emotion Cake slice (Rp.20 ribu) setelah bertanya pada karyawan The Harvest, mengenai produk andalan outletnya. Lihat jejeran cake yang menggiurkan di etalase memang bisa bikin orang bingung. Pengen pesan semuanyaaa, buat dimakan gantian tiap harinya. Pesan minumnya Es Teh Tarik (Rp.25 ribu).
     Tadinya kita mau milih duduk di lantai atas toko kuenya, eh tapi kata mas-masnya belum jadi yang diatas. Ya sudah kita ambil tempat duduk di luar, di tamannya. Nggak berapa lama datanglah si merah merona, yang oleh rekomendasi detikfood dikatakan cukup ideal ini. Beserta secangkir air panas plus satu sachet Dilmah Earl Grey Tea *berharap cangkirnya bisa dituker yang gedean lagi, ganti mug*. Mbak waitressnya pamit balik lagi untuk ambil gula. Mau saya bilang untuk nggak perlu ambil gula, eh mbaknya udah keburu jalan. Saya mau minum teh tawar saja. Ada kue coklat kecil sebagai pendamping teh nya, apa yaa Biscotti mungkin. Tapi nggak saya makan karena keras, mau dicelupin ke teh ntar malah ngotorin tehnya. 
     Gula pasir dan gula palem dalam sachet akhirnya datang bersama pesanan teman saya. Oo ini toh yang namanya Choco Emotion, bentuknya blenduk-blenduk. Segelas besar Es Teh Tarik yang dingin, membuat saya kepikiran kenapa siang-siang gini saya malah pesan teh anget ya.

--- Red Velvet Cake ---
    Sebelum sendok mengobrak-abrik hasil karya sang pastry chef, mari kita amati dulu perwujudannya. Red Velvetnya terdiri dari empat lembar cake yang dilapis krim, dengan taburan remahan cake di sisi samping dan atasnya. Dihias dengan potongan buah Strawberry dan butiran chocolate caviar. Setelah potongan pertama masuk mulut, terasa frosting cream cheesenya. Cake nya cukup lembab dan tidak terlalu manis. Pas lah, kebetulan saya ngga gitu hobby sama kue yang manis banget. Warna merah cantik cakenya di state oleh tokonya berasal dari ekstrak umbi Bit asli.
--- Choco Emotion Cake ---
    Beralih ke Choco Emotion, tiga lembar cake coklat yang berlapis chocolate mousse. Choco mousse nya ampe menggunung. Dengan taburan coklat serut dan buah strawberry.  Nyoklat banget dan manis. Tapi kalau dipasangin sama Teh Tarik tadi yang juga manis, masih nahan nggak ya manisnya.
    Overall Red Velvet Cake nya enak, Choco Emotion nya juga enak. Harganya juga terjangkau. Tapiii..nah bener khan temen saya nggak sanggup ngabisin cakenya dan minta dibungkus. Iya lah, manis ketemu manis bisa eneg jadinya. Red velvet saya mah ludes. Kalau mau makan cake atau makanan manis lainnya, pilih minuman yang netral aja kaya air putih/air mineral. Pilihan yang asem-asem kaya jus jeruk juga boleh, biar nggak eneg. Atau pilih minuman hangat, supaya bisa sekalian ngebilas butter/krim yang nempel di mulut.     
     Cerita Macarons nya di posting berikutnya yaa.
 

Wednesday, June 20, 2012

Andakar, Warung Buncit

     Kemarin saya dan seorang rekan kantor makan siang di Andakar (singkatan dari Aneka Daging Bakar) yang ada di bilangan Pejaten. Lagi kepengen aja makan siang yang tidak biasa, rasanya warung yang deket kantor sudah dicobain semua. Saya sudah lama ingin mampir ke Andakar tapi belum sempat. Kabarnya steak yang ada disini enak dan terjangkau. Lokasi Andakar ini satu area dengan Pizza Hut Pejaten.
    Setelah menerima daftar menu, kami memilih-milih mau pesan apa kira-kira maklum kunjungan pertama. Oiya daftar menu tidak berupa buku tapi hanya satu lembar bolak-balik -depan;menu makanan dan belakang;menu minuman-. Pilihan makanannya berupa steak daging, ayam,ikan atau kambing, khusus untuk daging bisa pilih lokal atau impor. Akhirnya saya memesan Steak Sirloin Impor (Rp 48,5 ribu) dan Ice Lemon Tea (Rp 12,5 ribu) sedangkan teman saya memilih Steak Rib Eye local (Rp 38,5 ribu) dan Teh Botol (Rp 7 ribu).

 - Sirloin Steak impor -
         - Rib Eye Steak local -
    Dagingnya empuk karena dipanggang medium, potongannya cukup besar untuk ukuran satu porsi. Sampai teman saya minta dibungkus separuhnya karena nggak kuat menghabiskan sekaligus saat itu juga. Kalau saya sikat ditempat sampai ludes, soalnya pagi nggak sempat sarapan hahaha. Karena penyajian steaknya dipiring jadi cepat adem dagingnya, coba kalau ditaruh di hotplate pasti tambah nyoooss. Eh tapi hotplate nya nggak muat kayanya buat naruh daging plus kondimennya itu.
      Ada yang lucu nih soal minumannya. Bukan soal Teh BotoL nya tapi soal Ice Lemon Tea. Waktu dianter oleh waitress, wujudnya adalah Ice Lemon Tea dengan seiris jeruk nipis di dalamnya. Kebetulan teman saya bawa sekotak strawberry yang kami makan sambil menunggu pesanan datang. Jadi saya dekor gelas Ice Lemon Tea pakai irisan jeruknya plus strawberry, nah tambah manis khan penampilannya.

- Ice Lemon Tea before -
       - Ice Lemon Tea after -
     Meskipun nggak pake nasi dijamin kenyang ampe sore deh. Kapan-kapan mampir sini lagi mau nyobain yang lokal , mau tahu bedanya signifikan atau nggak. 

Andakar
Jln. Warung Buncit Raya Pulo No. 1
Pejaten, JakSel
    
  

Wednesday, March 7, 2012

House of Raminten, Yogya

--- plang depan cafe ---
     Maap baru sempat posting sekarang hehehe. Ini nih yang namanya House of Raminten, cafe tradisional yang lagi happening di Yogya. Disingkat HoR aja ya biar gampang. HoR didirikan oleh pemilik yang sama dengan Mirota Batik. Ada tiga cabang HoR, yaitu di kawasan Malioboro,Kaliurang dan Kotabaru. Yang cabang Malioboro ada di lantai 3 Mirota Batik. Kabarnya nih yang cabang Malioboro jika sabtu malam ada pertunjukan kabaret, yang sebagian dimainkan oleh kaum transgender. Bener atau tidaknya nggak tahu ya, kita belum buktiin sendiri.
     Pada saat ke Yogya kita mampir ke cabang House of Raminten yang ada di Kotabaru, yang bersebelahan dengan Mirota Bakery. Cabang ini benar-benar berupa restoran/cafe. Dan kebetulan kita kesana pas Sabtu malam alias malam Minggu, penuhnyaa bo'. Situasi cafe yang ngirit listrik, remang-remang cenderung gelap bikin susah merhatiin setiap detil cafe. Tapi dilihat sekilas sih lay out dan dekornya bagus. Kebetulan saya masuk belakangan karena menunggu sepupu saya dan driver untuk masuk cafe bersama. Karena gelap kita sempat kebingungan mencari teman-teman saya yang sudah masuk duluan untuk milih meja. Daripada nggak ketemu-temu ya udah tanya mas-mas waiternya aja. Ternyata kita dapet meja di lantai atas.
    Bener deh, walau gelap begini tetap kelihatan kalau cafenya itu pengaturannya bagus. (sama sekali nggak bisa foto karena gelap). Lain kali kesininya pas siang aja biar kelihatan jelas. Kita dikasih buku menu sama mbak-mbak waitressnya. Waitressnya ayu-ayu udah gitu pake kemben lagi (gak berani foto, takut digaplok ;p). Di buku menu terpampang jelas tokoh 'Raminten'. Diimejkan ibu-ibu berkebaya Jawa dengan konde besar (kalau sekarang bilangnya Konde Soimah).

--- cover buku menu ---
     Dari menu camilan, makanan utama, sampai berbagai minuman juga tersedia disini. Dengan nama yang unik-unik. Tersedia juga racikan jamu dan rempah-rempah. Oke juga idenya untuk melestarikan warisan leluhur supaya disukai oleh kalangan muda sekarang. Ssstt kalau di HoR pesan Susu bakalan disajikan dalam cangkir berbentuk 'susu' lho. Yang ini siy bebas dipegang-pegang, nggak bakal ada yang protes hahaha. Ya iya lah mesti dipegang, kalau nggak dipegang cangkirnya gimana mau minum. Awas jangan salah pegang ya, gelap niy cafenya :D.
    Malah ngelantur kemana-mana nulisnya. Ayo kita ngomongin makanan, disini ada Nasi Kucing dengan pilihan lauk macam-macam,Bubur Ayam,Roti Bakar,Indomie juga, trus sama Hot Stone Steak yang punya nama Maheso Selo Bromo, dsb. Minumannya ada Es Dawet, Es Kelapa, Wedang Secang, Wedang Jahe, jamu-jamuan,jus dll. Sebagian teman saya memilih Hot Stone Steak,Sate Jamur,Es Dawet, Es Kelapa Jumbo. Sedangkan saya sendiri karena tidak terlalu lapar memesan Roti Bakar Coklat Keju dan Wedang Secang. Well.. saya sudah lupa berapa harganya masing-masing. Yang ingat cuma Hot Stone Steak nya Rp 20 ribu.
 
--- Maheso Selo Bromo ---
 
--- ki-ka: Es Dawet,Wedang Secang,Es Buah ---
    Ada yang lucu waktu semua pesanan diantarkan. Setelah dibagikan satu persatu sesuai pesanannya, ternyata tersisa satu gelas es. Akhirnya kita kasih tahu ke waiter, dan minuman itu adalah Es Buah. Diantara kita nggak ada yang pesan, untung belum disikat kalo nggak khan mesti bayar.  Temen saya ada yang pesan Es Kelapa Jumbo, gelasnya segede akuarium. Kalau pesan itu mendingan bawa gelas plastik dari rumah ntar dibagi-bagi, lumayan bisa buat bertiga.
--- Es Kelapa Jumbo* ---
*foto pinjam punya Poey
     Cafe yang tradisional tapi nyentrik. Melestarikan budaya daerah dengan kemasan modern. Kapan-kapan kita kesini lagi. Tapi ya siang-siang aja kalau nggak mau peteng dedet (gelap gulita) kaya' kemarin itu. 
 

HOUSE OF RAMINTEN
Jl. FM. Noto no. 7, Kotabaru
Yogyakarta


Friday, February 24, 2012

Sakura Restaurant , Cilandak

       *Courtesy www.sakura.co.id
     Masih di Sakura Japanese Restaurant, cooking class sudah selesai. Sedikit kecewa karena ternyata tidak dapat makan siang gratis hiks hiks. Tapi untungnya sushi hasil praktikum itu boleh dibawa pulang. Lumayan buat makan siang. Saya dan teman saya memutuskan untuk mencoba menu di Sakura.
    Waktu sudah masuk jam makan siang, restoran mulai penuh. Beberapa peserta kursus yang tadinya hendak makan di Sakura membatalkan niatnya karena sebagian besar meja sudah dipesan. Tengok kanan kiri, wow ternyata kebanyakan tamunya adalah orang-orang Jepang. Itu artinya sajian di Sakura cocok dengan lidah mereka. Mungkin resepnya menggunakan racikan otentik dari Jepang ya, sesuai slogan mereka 'Your Personalized Japanese Restaurant'.
     Dua box sushi bikinan saya rasanya cukup banyak untuk makan siang. Jadi saya memutuskan untuk pesan makanan yang ringan saja. Buka-buka buku menu, saya tergoda untuk mencicipi satu makanan yang cukup populer Chawan Mushi (Rp. 35 ribu). Sedangkan teman saya memesan Ice Cream Tempura (Rp. 25 ribu). Jika makan di tempat dapat Ocha gratis, kami memilih Ocha hangat.
     Ice Cream Tempura datang duluan. Es krim berbalut roti yang digoreng menggunakan tepung tempura.Ketika dibelah dengan sendok, lelehan es krimnya mengalir keluar. Dingin, hangat, dan renyah berpadu menjadi satu. Yang agak lucu menurut saya adalah garnishnya yang memakai daun selada dan tomat. Rasanya akan lebih pas jika dipadukan dengan buah saja.
--- Ice Cream Tempura ---
Agak lama menunggu sampai si Chawan Mushi datang, maklumlah baru dimasak ketika ada pesanan. Chawan Mushi ini terbuat dari telur dicampur dengan kaldu ikan, dan potongan ayam,udang, jamur kemudian dikukus. Saya tambahkan cabe bubuk saat makan tim telur ini supaya tidak eneg. Berhubung perut lapar, akhirnya Chawan Mushi nya saya makan bareng sushi yang isi orek tempe. Sama aja makan nasi, telur, dan tempe ya hahaha.
--- Chawan Mushi ---
   Oiya mungkin saking ramenya restoran, mbak waitressnya lupa mengantarkan Ocha hangat yang kami minta. Jadi kami mesti mengingatkan lagi. Beneran lho rame karena orang-orang Jepang itu pada ngerumpi.  
     Interior restorannya dihiasi pernak-pernik Jepang antara lain lukisan dan boneka Geisha. Table mat nya menarik sekali, berupa pelajaran huruf-huruf kanji Hiragana. Di tiap meja juga disediakan bumbu-bumbu tambahan pelengkap ada cabe bubuk,lada,garam,kecap asin,cuka. Ah beberapa bumbu lain sama sekali tidak ada keterangan dalam bahasa inggrisnya sama sekali di labelnya. Jadi kalau mau tau ya mesti tanya sama staff restorannya daripada nanti salah nambahin bumbu.
--- Bingung,huruf kanji semua ---

SAKURA
Jl. RA Kartini (TB Simatupang) no.9
Jakarta Selatan 12440
Telp. 021-7511193
Fax.  021-7511192

Friday, February 10, 2012

Gadri Resto , Yogya

       November 2011 memang sudah terlewat 3 bulan yang lalu tapi kenangan jalan-jalan ke Yogya masih lekat di ingatan. Suasananya, makanannya, sejarahnya dan obrolan ngalor ngidul sama teman-teman yang bareng kesana. Salah satu tujuan kalau kita pergi ke suatu daerah adalah makanannya. Sebelum berangkat ke Yogya saya menyempatkan diri untuk mencari info tempat makan yang khas atau terkenal disana. Dapat beberapa nama yaitu House of Raminten, Bale Raos dan Gadri Resto. Sebenarnya masih banyak tempat makan lainnya, tapi kita pilih yang searah rute tour kita. Bale Raos dan Gadri Resto menyajikan hidangan khas keraton dan menu-menu favorit para Sultan. Menimbang letaknya yang lebih dekat ke Keraton, akhirnya pilihan jatuh pada Gadri Resto. (House of Raminten di posting terpisah ya, masih nyari foto-fotonya nih).
     Hari terakhir di Yogya, setelah berkunjung ke keraton. Kita makan siang di Gadri Resto. Agak kaget liat gerbangnya, ternyata nggak lebar-lebar amat kaya umumnya restoran. Wah ini sih kalo saya yang nyetir bisa bablas kelewat restonya.
       Yang dijadikan tempat makan terletak diteras rumah sang empunya resto. Gadri Resto berdiri pada tahun 1984. Pendirinya adalah GBPH Joyokusumo yang merupakan adik kandung dari HB X. Namanya dicantumkan di depan buku menu. Resep-resep yang tersedia di Gadri Resto adalah hasil kumpulan resep turun-temurun Keraton yang dikumpulkan dan dibukukan oleh BRAy. Hj. Nuraida Joyokusumo, istri dari Gusti Joyokusumo. Inisiatif untuk mendirikan restoran ini untuk melestarikan resep-resep tradisional Jawa khususnya  hidangan keraton.
         Dalam daftar menunya tercantum hidangan mulai dari makanan utama, penutup dan berbagai minuman. Penulisan juga ada dalam bahasa Inggris, untuk mengakomodir turis mancanegara. Dari sekian banyak hidangan utama, saya memilih Nasi Blawong (Rp. 29 ribu) dan minumnya Bir Jawa dingin (Rp. 18 ribu). Nasi Blawong ini konon merupakan favoritnya HB VIII dan HB IX.
     Sambil menunggu makanan disiapkan kami diantar berkeliling rumah sekaligus museum kecil ini. Ssstt yang punya rumah lagi ada, tapi dikamarnya. Ruang tamunya berfungsi untuk koleksi berbagai  pernak-pernik Jawa antik. Juga ada kamar dengan tempat tidur yang dulunya dipakai oleh HB IX. Di halaman belakang ada seperangkat gamelan Kyai Kanjeng Retno Puspa. 
     Puas berkeliling, sekarang waktunya makan !...
 
 --- Nasi Blawong ---
Nasi Blawong ini terdiri dari nasi yang dimasak pake bumbu, daging lombok kethok, ayam goreng, telur pindang goreng, kerupuk dan sambal. Asal mulanya jaman dulu nasi ini disajikan dalam piring lebar dari Belanda, yang orang sini bilangnya piring Blawong. Teman-teman saya ada yang memesan Nasi Punar, kalo di Jakarta macam nasi uduk lah. Nggak sempat difoto udah disikat ama yang punya. 
 --- Bir Jawa ---
         Bir Jawa nya terasa  asam segar dan pastinya nggak bikin mabok deh. Sebenarnya saya masih pengen makan dessert Manuk Nom, puding yang terbuat dari tape ketan hijau, telur dan susu lalu dikukus lalu disajikan dengan emping. Tapi berhubung sudah kenyang, apalagi menu-menunya agak pricey. Jadi batal deh, kapan-kapan kalo kesini lagi nyobain. Overall good !, ngerasain jamuan ala priyayi.
* Dimas,.makasih udah dibagi foto-fotonya *

Gadri Resto 
JL. Rotowijayan no.5 
sebelah barat Kraton Jogja. 
Telp: +62274 – 373520
Fax: + 62274 – 380145


Monday, January 30, 2012

Java Bean, PenViL

Sendiri...
Ada kalanya menyedihkan, ada kalanya menyenangkan
Coba bayangkan pas mau nggeser lemari dan cuma sendiri
Coba bayangkan pas dapat undian puluhan juta dan yang tahu cuma sendiri
Beda khan ?!

     Seperti saat saya harus sendiri tugas luar ke suatu departemen di bilangan Monas. Datang kesana celingak-celinguk sendirian. Untungnya saya sudah sekian kali berkunjung kesana, jadi sudah tidak bingung tempatnya. Lagipula bukan anak-anak yang mesti dikawal khan.
     Urusan udah beres, udah diumumin pula kalau nggak dapat makan siang. Ini lebih mbingungin, mau makan dimana yaa. Kantor orang niy, mana ngerti saya mesti makan dimana. Ya sudah cari makan dalam perjalanan pulang ke kantor sendiri aja.
   Keluar dari halaman Departemen, pas banget berpapasan dengan rombongan RI 1. Akhirnya saya liat juga mobil dinasnya Pak Presiden. Biasanya ketika berangkat ke kantor, dalam perjalanan saya sering berpapasan atau beriringan dengan rombongan Menteri. Mudaha-mudahan ketularan jadi orang gedean. Amin..amiin..
    Balik lagi urusan makan siang. Sempat mau mampir di Grand Indo tapi ditempat sebesar itu kayaknya gak asik kalau sendirian. Nggak jadi turun dari busway deh, terus aja. Setelah menimbang, mengingat dan akhirnya menutuskan untuk turun di shelter Pejaten. Mari ke pEjaten Village lagi.
    Disana saya menuju satu resto di lantai 1 yang letaknya agak ke pojok. JAVA BEAN Coffee & Resto . Setelah melihat-lihat buku menu, sempat pengen pesan minuman kopinya tapi koq larang (mahal) yoo, saya pesan makanan yang nggak terlalu berat. Macaroni Cornet Beef (Rp 22 ribu) dan salah satu minuman kesukaan saya Iced Lychee Tea (Rp 18,7 ribu). Itu belum sama PPn 10% lho.
--- Macaroni Cornet Beef ---
 
--- Iced Lychee Tea ---
    Datanglah Macaroni Schotelnya, ooo ada french fries-nya juga. Lumayanlah bisa bikin kenyang. Dari segi rasa, sebenarnya cukup enak tapi asinnya agak lewat sedikit buat saya. Mungkin karena cornet beefnya sebenarnya sudah asin trus ditambahin garamnya agak kebanyakan hehehe. French friesnya oke-oke aja. Giliran minumannya nih !. Iced Lychee Tea termasuk varian minuman yang dijual di banyak restoran, tapi belum tentu rasanya sama. Di Java Bean sekilas campurannya hanya teh,gula,leci kaleng,air leci,gula dan es. Di resto lain, ada yang menambahkan sirup leci agar rasanya lebih kuat, atau cincangan jeruk lemon dan daun mint.
 
--- Promo Paket ---
    Buat yang ingin mencicipi menu paketnya (main course plus drink) bisa mencoba promo yang ditawarkan. Biasanya dipajang dimeja  info promonya. Saya sempet lirik-lirik meja sebelah ketika salah satu dari 3 wanita yang ada di meja tersebut berkata "Ini es krim ter-imut yang pernah gue makan" -sambil sibuk motoin es krimnya-. Es krim apaan sih?. Aaaah iya beneran imuuut. Langsung saya colek si mbak nanya "Mbak itu namanya es krim apa?".Trus dia tunjukin di buku menu, yah pokoknya ada Minnie Mouse nya gitu deh. Es krimnya segelas besar dengan topping whip cream melingkar membentuk kepala Minnie, trus Strawberry jam  untuk menggambar mulutnya serta 2 buah oreo sebagai telinganya. Kapan-kapan kalau ke Java Bean lagi pesen es krim itu ah. Beres lah nanti saya upload disini gambarnya.   

Java Bean Coffee & Resto
Pejaten Village Lt.1 No. 57-58
Jakarta Selatan


Tuesday, January 24, 2012

Saung Bambu, Tendean

    Tau sih kalau sekarang hari Selasa tapi pengen nyeritain kejadian hari Jumat yang lewat beberapa waktu silam. Biasa deh kalau jam makan siang hari Jumat, banyak karyawan yang ngabur kemana-mana lantaran waktunya lebih panjang dari hari kerja biasa. 
   Saat itu saya dan seorang rekan memutuskan untuk makan siang di food court di jalan Tendean, di sebelah gedung kantor salah satu televisi swasta. Bangunan foodcourt ini belum lama dibangun. Saya terlebih dahulu berkeliling untuk memilih makanan. Akhirnya saya berhenti di kios 'Saung Bambu' untuk memesan Nasi Bakar Ati Ampela plus urap dan mendoan. Total hanya Rp. 11 ribu saja. Untuk minumannya pesan Jus Mangga (Rp. 7 ribu) dari kios khusus Jus dan Sop Buah yang letaknya di pojok sebelah kanan tangga. Saya kurang memperhatikan nama kiosnya.

--- Nasi Bakar Ati Ampela ---
--- Jus Mangga ---
    Nasi bakarnya padat, baru ketahuan porsinya cukup banyak waktu 'dibongkar' hehehe. Ada sambel terinya juga. Makan disini sambil  tengok kanan kiri, pasti ada hal yang menarik untuk diperhatikan.
    Sayangnya setelah tengok sana sini nggak ada artis yang lagi makan disini. Mereka makan di resto kali ya, nggak di foodcourt. Adanya malah anak-anak abg yang perkiraan saya sih abis pada nonton program musik atau kuis gitu. Biasa lah nyari hiburan sekalian uang jajan dikit-dikit. Kabarnya abg2-abg yang suka nonton program musik di tv (yang berdiri di barisan depan) umumnya ada yang mengkoordinir. Anak abg itu bisa dapat imbalan Rp 30-50 ribu. Ga apa2-apa lah asal nggak keseringan, ntar nggak sekolah malah nonton mulu.
   Seperti meja di depan saya ini segerombolan anak muda (cowok-cowok) yang berdandan ala 80-an ini. Tenyata rekan saya (seorang ibu yang udah punya anak abg) ikut memperhatikan juga. Apa yang terbersit dalam pikiran kami pun sama : ''Bocah-bocah cowok ini koq lagaknya kemayu yaa?!". Si ibu satu  itu pun berkomentar, apa orang tua mereka nggak tahu kalau anak-anaknya gayanya kaya' gitu. Dandanannya sih tetep cowok, tapi gaya bicara dan jalannya halah halaah. Kami rasa mereka tetap lah para pria, tapi mungkin terbawa pergaulan saja. 
   Para remaja yang rata-rata masih galau mencari jati diri perlu figur contoh sebagai acuan. Mereka berupaya menjadi seperti sosok idolanya. Kala contoh yang dipilih bukanlah sosok yang tepat, maka salah juga pengikutnya. Sudahkah kita memilih sosok yang tepat sebagai figur idola ?.
   Ah Nasi Bakarnya koq jadi serius begini ya. 


Saturday, January 21, 2012

Eaton , PenViL

         Emang sih nama yang satu ini terkenal sebagai toko bakery, tapi sebenarnya ada restonya juga .Mungkin karena digabung sama toko bakerynya, jadi banyak yang nggak nyadar kalau Eaton nyediain makanan selain kue. Teteup produk utamanya mereka adalah produk bakery.Saya sudah beberapa kali beli kue-kue di Eaton. Steamed Cakenya lembut banget. Yang tenar dari Eaton adalah Japanese Cheese Cakenya. Cheese cake nya tipe baked cheese cake bukan chilled. Saya lebih suka karena cakenya dipanggang jadi rasa asam kejunya berkurang, daripada yang chilled cheese cake.
    Tadinya agak ragu pas diajak makan di Eaton, Pejaten Village. Yaa itu tadi "Emang Eaton jualan makanan, bukannya kue doang?". Tapi setelah diyakinkan akhirnya kita nyoba makan di Eaton juga. Setelah dikasih buku menu sama waitressnya, baru tahu deh kalau pilihan makanannya banyak. Mayoritas bisa dibilang masakan bergaya oriental gitu lah. Berhubung lapar yang mendera kita mencari menu nasi dan kawan-kawannya untuk makan siang.
    Menu yang kami pilih adalah Nasi putih (Rp 6 ribu), Sapi Lada Hitam (Rp 35,8 ribu) dan Brokoli bawang putih (Rp 23,8 ribu). Sedangkan untuk minumannya saya pilih Es Teler (Rp 17 ribu) dan teman saya pesan Milo Dinosaurs (Rp 14,5 ribu). Semua itu belum termasuk pajak dan service ya.
    Eng ing eng pesanan berdatangan. 
--- Nasi Putih ---
--- Brokoli Bawang Putih ---
--- Sapi Lada Hitam ---
    Kebetulan yang pesan Milo lagi ke toko sebelah saat minumannya datang. Jadi dia nggak tahu kalau saya sempat terkekeh waktu lihat yang dibilang 'Dinosaurs' itu. Kirain segede apa, ini sih masih anakan 'Dinosaurs' hehehe.Soalnya gelasnya masih ukuran normal. Btw apa enaknya makan nasi trus abis itu minum susu ya, bukannya malah eneg. Biarin lah yang minum juga bukan saya ini.  
--- Milo Dinosaurs ---
    Pas es telernya dateng, nah lho koq dari luar kliatannya putih semua gini. Setelah diaduk baru deh bermunculan isinya, ada nangka, alpukat, dan kelapa muda. Ternyata mereka nyelip diantara tumpukan es serut dan kuah santan. Rasanya hmmm seperti selayaknya es teler. Udah pada tahu semua khan rasanya es teler kaya' apa ?!.
--- Es Teler ---
     Brokoli Bawang Putihnya dimasak dengan bumbu ringan di lidah dan taburan bawang putih goreng yang renyah. Cara masak yang sederhana, tapi buat saya bisa jadi ide bagus buat dipraktekkan kalau sedang tidak punya banyak waktu untuk masak. Kapan-kapan bikin ah.
     Sedangkan Sapi Lada Hitamnya meskipun dibumbui lada hitam tapi tidak 'nyegrak' di tenggorokan. ('Nyegrak' apa sih?. Menusuk atau tajam aromanya. Halah repot njelasinnya). Suka banget cara penyajiannya. Piringnya dialasi dengan selembar lettuce baru dituang sapi lada hitamnya. Plus garnish juga di pojok piring, potongan lemon dan cherry merah. Manis banget keliatannya. Jadi  inget pesan para juri-juri lomba masak itu "Yang namanya garnish harus bisa dimakan juga!". Ini yang dipiring kayanya bener bisa dimakan semua.
    Oiya saran saya, selama menunggu pesanan tiba sempatkan untuk berkeliling toko bakery. Melihat-lihat berbagai kue dan roti yang menggiurkan. Apalagi ketika mendekati hari raya, Eaton memajang berbagai parsel/hampers yang berisi kombinasi kue untuk hantaran.

Eaton Bakery and Restaurant
Pejaten Village Lt. 1 Unit 39
Jakarta Selatan