Thursday, May 3, 2012

Ada Macaannn !

    Siapa sih yang nggak kenal Arip, bocah yang buandelnya ampun-ampunan itu. Dia suka nakutin anak-anak yang pulang mengaji dengan menyaru seperti hantu atau main pocong-pocongan. Pada suatu malem ketahuan juga usilnya si Arip. Pas anak-anak pontang panting lari ketakutan, sialnya si Leman sarungnya kesangkut ranting pohon. Pas lagi panik nglepasin sarungnya, dia samar-samar ngelihat Arip lagi nyopot kostumnya.
   Malam ini Arip udah siap di standnya di ujung jalan buat nakutin anak-anak. Cengar cengir dia membayangkan anak-anak itu lari ketakutan. Tapi gak seperti biasanya angin dingin ini bikin agak merinding. Kali ini Arip udah siap dengan kemul sprei putih, mau main pocong-pocongan lagi. 

Tidak berapa lama terdengar suara gemerisik dari dalam semak-semak.
   "Siapa itu ??", Arip bertanya.  

Sunyi.. tak ada jawaban.
Arip kembali berbalik. Suara itu muncul lagi, malahan semakin keras.
  "Jangan iseng deh", kata Arip, 

  "Aku pentung nanti" sambil menggenggam bambu yang ada di kebun.
Karena suara itu tak kunjung berhenti, disamperinlah oleh Arip. 

Sambil menyibak semak, batang bambu pun siap dipukulkan.
Tapi  dia kaget bukan kepalang. 

Macan loreng dengan mata bersinar ada dibalik semak.
   Arip mundur terburu-buru, berbalik dan mencoba lari. Malang sarungnya tersangkut, sementara geraman macan kian mendekat. Arip memilih meninggalkan sarungnya. dan lari terbirit-birit. Dia berlari sekuat tenaga, saking takutnya tak lihat jalan. "byur" sebelah kakinya kecebur di parit dekat rumahnya. Sampai di depan rumahnya, ia masuk dan langsung tutup pintu.
   "Huaaaa !"
   "Aapa sih Rip teriak-teriak? tanya maknya
Rupanya Arip terkejut melihat emaknya yang masih memakai mukena
   "Kenapa kamu?"
   "Anu Mak. Dikejar-kejar macan"
   "Ah mana ada Macan, kamu kira di hutan"
   "Ada Mak, di belokan sana"
   "Kenapa juga kamu ada disana. Tak berangkat mengaji ke masjid?"
Arif tertunduk tak menjawab.
  "Itulah akibatnya. Kamu seharusnya belajar bersama teman-temanmu malah main-main. Diganggu jadinya. Mulai besok kamu harus sampai di masjid".
  Besok paginya, saat akan berangkat ke sekolah. Arip  menemukan sarungnya tersampir di jemuran.
  "Lha ini khan kemarin nyangkut di kebon".
   Malamnya Arip menurut kata emaknya, ia pergi mengaji ke masjid. Dia bercerita pada kawan-kawannya kalau ia melihat macan tadi malam, dan paginya sarungnya pulang sendiri.
   "Macannya ngikutin ke rumah kali Rip, nganterin sarungmu.. hahaha"
Arip pun jadi bahan ledekan anak-anak lain.
  Pulang mengaji beramai-ramai dengan anak-anak lainnya. Sesampainya dekat belokan tempat melihat macan semalam, Arip mempercepat langkahnya dan pulang duluan.
Anak-anak lain yang dibelakangnya sontak kasak-kusuk.
   "Aah bisanya nakut-nakutin, sendirinya penakut"
   "Iya sama sinar senter kecil aja takut"
   "Tapi kita berhasil bikin Arip nggak jahil lagi sama kita hahaha"
   "Iya,tapi besok kita ajak dia mengaji lagi"
   "Eh ayoo cepat jalannya, nanti ada macan beneran lagi"
   "Hiii...atuut."
   Ternyata ide macan-macanan itu hasil rembukan Leman dkk. Mereka sudah ngumpet duluan di balik semak dimana Arip suka nakut-nakutin mereka. Lengkap dengan topeng macan yang dibeli di depan sekolah mereka.



*Nama dan kisah hanyalah khayalan saya semata ;D

No comments:

Post a Comment